Sistem Lahan

Sistem lahan (land system) yang diperkenalkan oleh Christian dan Stewart (1968), didasarkan pada prinsip ekologi dengan menganggap ada hubungan yang erat antara tipe batuan, hidroklimat, landform, tanah, dan organisme.

Sistem lahan yang sama akan mempunyai kombinasi faktor-faktor ekologi atau lingkungan yang sama. Oleh karena itu, sistem lahan bukan merupakan sesuatu yang unik untuk satu tempat saja (spesifik lokasi), tetapi dapat dijumpai di mana pun dengan karakteristik lingkungan yang sama.

Lebih lanjut dikemukakan bahwa satu sistem lahan terdiri atas satu kombinasi batuan induk, tanah, dan topografi, dan hal ini mencerminkan kesamaan potensi dan faktor-faktor pembatasnya. Sistem lahan ditafsirkan dari RePProt dimana dijumpai berbagai macam simbol-simbol yang menunjukkan karakteristik dari suatu lahan.

LANDSYSTEM TINJAU INDONESIA

Narasi Peta

Wilayah Tersedia

Pulau Sumatera (Aceh, Sumut, Riau, Sumbar, Jambi, Bengkulu, Sumsel, Lampung, Babel, Kepri)

Pulau Jawa (Jakarta, Banteng, Jabar, Jateng, Jogja & Jatim)

Pulau Kalimantan (Kalbar, Kalteng, Kasel, Kaltim & Kaltara)

Pulau Bali (-)

Kepulauan Nusa Tenggara (NTT dan NTB)

Pulau Sulawesi (Sulsel, Sulbar, Sultra, Sulteng, Gorontalo & Sulut)

Kepulauan Maluku (Maluku & Malut)

Pulau Papua (Papua dan PapBar)

Sumber

Regional Physical Planning Programme for Trasmigration (RePPProT), Departemen Transmigrasi (1987)

Advertisements

10 comments on “Sistem Lahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s