Peta Lahan Kritis

A. Pengertian Lahan Kritis

Lahan merupakan material dasar dari suatu lingkungan (situs) yang diartikan berkaitan dengan sejumlah karakteristik alami yaitu iklim, geologi, tanah, topografi, hidrografi, hidrologi, dan biologi. Penggunaan lahan merupakan aktivitas manusia pada dan dalam kaitannya dengan lahan, yang biasanya tidak secara langsung tampak dari citra. Penggunaan lahan telah dikaji dari beberapa sudut pandang yang berlainan, sehingga tidak ada satu definisi yang benar-benar tepat di dalam keseluruhan konteks yang berbeda. Hal ini mungkin, misalnya melihat penggunaan lahan dari sudut pandang kemampuan lahan dengan jalan mengevaluasi lahan dalam hubungannya dengan bermacam-macam karakteristik alami yang disebutkan di atas (Sutanto, 1996).
Lahan kritis merupakan lahan atau tanah yang saat ini tidak produktif karena pengelolaan dan penggunaan tanah yang tidak atau kurang memperhatikan syarat-syarat konservasi tanah dan air, sehingga lahan mengalami kerusakan, kehilangan atau berkurang fungsinya sampai pada batas yang telah ditentukkan atau diharapkan. Secara umum lahan kritis merupakan salah satu indikator adanya degradasi (penurunan kualitas) lingkungan sebagai dampak dari berbagai jenis pemanfaatan sumber daya lahan yang kurang bijaksana.
Lahan kritis dapat juga diartikan sebagai suatu lahan yang keadaan fisiknya sedemikian rupa sehingga lahan tersebut tidak dapat berfungsi secara baik sesuai dengan peruntukannya sebagai media produksi ataupun media tatanan air (Menteri Kehutanan, 2001).
B. Klsisfikasi Lahan Kritis
Berdasarkan Dokumen Standar dan Kriteria Rehabilitasi Hutan dan Lahan Lampiran SK Menteri Kehutanan No. 20/Kpts-II/2001 (Dokumen Standar dan Kriteria RHL), klasifikasi lahan kritis dapat dibagi menjadi 5 kelas yaitu:
  1. Tidak kritis, yaitu lahan yang hasil skor total dari beberapa kriteria penentu lahan kritis berkisar 451 – 500 untuk kawasan hutan lindung, 426 – 500 untuk kawasan budidaya dan 426 – 500 untuk kawasan lindung di luar hutan.
  2. Potensial kritis, yaitu lahan yang hasil skor total dari beberapa kriteria penentu lahan kritis berkisar 361 – 450 untuk kawasan hutan lindung, 351 – 425 untuk kawasan budidaya dan 351 – 425 untuk kawasan lindung di luar hutan.
  3. Agak kritis, yaitu lahan yang hasil skor total dari beberapa kriteria penentu lahan kritis berkisar 271 – 360 untuk kawasan hutan lindung, 276 – 350 untuk kawasan budidaya dan 276 – 350 untuk kawasan lindung di luar hutan.
  4. Kritis, yaitu lahan yang hasil skor total dari beberapa kriteria penentu lahan kritis berkisar 181 – 270 untuk kawasan hutan lindung, 201 – 275 untuk kawasan budidaya dan 201 – 275 untuk kawasan lindung di luar hutan.
  5. Sangat kritis, yaitu lahan yang hasil skor total dari beberapa kriteria penentu lahan kritis berkisar 120 – 180 untuk kawasan hutan lindung, 115 – 200 untuk kawasan budidaya dan 110 – 200 untuk kawasan lindung di luar hutan
LAHAN KRITIS INDONESIA

Narasi Peta

Wilayah Tersedia

Pulau Sumatera (Aceh, Sumut, Riau, Sumbar, Jambi, Sumsel, Lampung, Kepri)

Pulau Jawa (Jakarta, Jabar, Jateng, Jogja & Jatim)

Pulau Kalimantan (Kalbar, Kalteng, Kasel, Kaltim & Kaltara)

Pulau Bali (-)

Kepulauan Nusa Tenggara (NTT dan NTB)

Pulau Sulawesi (Sulsel, Sulbar, Sultra, Sulteng, Gorontalo & Sulut)

Kepulauan Maluku (Maluku & Malut)

Pulau Papua (Papua dan PapBar)

Sumber

Kementrian Kehutanan, Tahun 2014

Advertisements

2 comments on “Peta Lahan Kritis

  1. kak, langkah dan teknis dalam memetakan lahan kritis seperti apa ya ? apa saya boleh mandapat infonya secara rinci ? terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s